poopoet

Hanya sekumpulan kalimat yang menurutku menarik..!!!

TULISAN, LISAN DAN MAKSUD

Melihat timeline teman-teman media sosial yang mempermasalahkan tentang penulisan Inshaallah dan Insyaallah, saya teringat tulisan cak nun yang mengambil kisah Bilal yang dipilih sebagai Muadzin pada zaman Rasulullah saw, padahal Bilal tidak mampu mengucapkan huruf “syin” namum Rasulullah menjawab, ketika kalian mendengar dia (Bilal) mengucap “sin” padahal harusnya “syin” itu maksudnya “syin”.

Itulah kearifan Rasulullah saw.

RELIGIUSITAS DAN KESEPIAN

Cak Nun barangkali memang pribadi langka. Di tengah hiruk-pikuknya orang modern memburu karir, gelar, status, ia malah ‘meniadakan’ diri dari barang buruan macam begitu. Latar belakang akademisnya yang tidak terlalu cerah tidak membuatnya surut untuk tetap mencari kesejatian yang ia idam-idamkan. “Kalau mau mencari ilmu, jangan mengandalkan bangku kuliah,”katanya suatu saat.

Beragam keunikan pandangan hidupnya banyak terpercik melalui kata-kata. Entah itu puisi, ceramah, ataupun kolom-kolomnya. Salah satunya terpercik melalui ‘obrolan di bawah ini.

Nama Anda yang sebenarnya Muhammad Ainun Nadjib. Proses apa yang membuatnya berubah menjadi Emha Ainun Nadjib?
Ya, hanya dibikin mudah saja saya tulis M dan H kemudian menjadi Emha untuk kependekan Muhammad. Juga karena mau bergaya, dan itu jelas gejala hura-hura. Kalau sekarang telanjur, ya sudah. Tahun 1987 saat saya menulis di Masa Kini masih pakai Muhammad, ternyata juga ada manfaatnya. Kalau saya pakai nama Muhammad alam budaya politik terasa lebih primordial buat aktivitas saya. Dengan nama Emha, pintu yang mungkin tertutup buat saya akan lebih terbuka. Secara psikologis ternyata ada pengaruhnya.

Nama Muhammad itu membawa beban tersendiri bagi Anda, paling tidak untuk orangtua Anda yang memberi nama itu dan berarti ada harapan-harapan tertentu pada Anda dari orangtua?
Ayah saya memang memberi nama semua saudara-saudara saya, katakanlah kalau dengan bahasa sekarang, ideologi, tapi Tuhan menolong saya dengan perubahan menjadi Emha. Agar tidak terlalu berat, nanti deh kalau sudah selesai ‘semesteran’. Kalau sudah, saya bisa sangga kembali nama Muhammad. Dan, saya saat ini sedang mengalami ‘semesteran terakhir’.

Kalau saat ini ‘semester terakhir’, apa yang terjadi pada Anda dalam ‘semester-semester’ sebelumnya?

Saya ini orang yang, sengaja atau tidak sengaja, sejak kecil secara intuitif khalwat. Khalwat itu artinya tirakat, meskipun tirakat saya itu tidak untuk menjadi orang kaya atau orang terkenal. Dalam konsep Islam, hidup itu hanya bagaimana agar kita bisa punya persyaratan untuk bisa diterima kembali oleh Yang Punya. Nah, persyaratan kepada setiap orang berbeda-beda sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang yang punya latar belakang budaya tertentu berbeda dengan orang lainnya. Orang yang lahir di Amerika, lingkungan yang jauh dari informasi agama dia tidak dituntut sejauh seperti orang kayak saya yang lahir di Jombang. Ada hukumnya tersendiri itu.

Jadi khalwat Anda apa?

Khalwat saya itu, tampaknya, pada dasarnya dipersiapkan untuk: pertama, berdasarkan kodrat alami saya; kedua, kodrat budaya saya. Kalau kodrat alami itu 100 % milik Tuhan, sedangkan kodrat budaya itu 50 % untuk manusia. Artinya, yang 50 % ini dipersilakan pada manusia untuk berinisiatif. Pokoknya Tuhan berbagi. Orang seperti saya dipersiapkan sejak semula untuk mencari ilmu lewat cara itu, karena ternyata saya tak bisa mencari ilmu secara formal. Selain itu, tentu saja kecenderungan-kecenderungan liar saya yang tidak akan pernah kerasan duduk di bangku kuliah.

Itu alasan Anda ketika meninggalkan bangku kuliah Fakultas Ekonomi UGM?
Itu alasan praktisnya. Realistis dan yuridis formalnya karena memang tak punya duit untuk terus kuliah.

Saat itu Anda merasa beruntung atau malah celaka ketika harus men-DO-kan diri dari UGM?

Saya tidak merasa beruntung atau celaka. Mungkin sudah sejak kecil saya belajar untuk tidak bersedih berlebihan atau bergembira keterlaluan. Saya tidak mau hidup di dimensi kecelakaan atau di dimensi keberuntungan. Karena saya merasa punya 50 % tadi. Semuanya biasa saja. Contoh yang kecil-kecil lainnya adalah ketika saya masih jadi wartawan, saya ditugaskan meliput upacara ABRI. Karena saya hanya memakai sandal dan kaos, saya dibentak oleh tentara. Pokoknya dibentak entek-entekan (habis-habisan). Waktu itu juga saya tidak merasa apa-apa. Diri saya ‘kosong’ saja. Nesu yo ora, ngroso rugi yo ora. Marah tidak, merasa rugi juga tidak. Atau kalau kecelakaan, mau ketabrak bis saya, ya, sulit misuh-misuh sama sopir busnya, biasa saja. Sikap hidup tengah-tengah.

Sak madya kalau orang Jawa bilang?

Ya. Sakmadya itu wasathon, tengah-tengah. Sebenarnya dalam peristiwa-peristiwa yang lebih panjang jangkanya, kalau saya terseret terlalu bergembira sebaliknya cepat-cepat kembali seperti semula. Bukankah keberlangsungan dua hal itu tidak lama? Kalau dalam Islam itu namanya istiqamah atau muthma’innah. Tapi saya sejak dulu bukan berarti harus muthma’innah atau istiqamah, cuma saya tahu sekarang-sekarang saja, oh yang begitu namanya istiqamah. Saya juga tak terlalu peduli dengan karir, dengan popularitas, nama baik. Pokoknya ada yang lebih substansial dari hidup saya yaitu menjalani apa yang saya yakini yang jadi warisan Tuhan. Sok-sok yen aku nganggo pikirane wong akeh yo sok nggumun. Aku kok koyo ngene, toh, uripku (Kadang-kadang kalau memakai pikiran orang banyak kadang jadi heran. Saya kok jadi begini hidupnya-ed). Tapi segera saya lupa lagi hal-hal yang begitu. Jadi kalau teman-teman melihat saya kemudian berkomentar waduuuh.. kok Emha sebagai penyair kok begini-begini, itu susah berlaku bagi saya. Karena saya tak pernah berpikir sebagai seniman, mubaligh, penyair. Saya tak pernah mempertimbangkan perilaku saya. Saya tidak mencari peluang seperti Rendra, negosiasi, saya tidak…. ya memang sakmadyo.

Namun kelihatannya Anda toh tetap punya rasa hormat terhadap teman-teman?
Saya mencoba memahami dan memperlakukan teman-teman itu sesuai dengan konsep mereka tentang diri mereka. Saya tidak akan menabrakkan cara saya memandang. Cara saya memandang mereka tertentu, berdasarkan galaksi hidup saya, ‘arsy hidup saya! Tapi cara mereka memandang hidup mereka kan berbeda dengan saya. Saya mencoba persuasif, saya tidak akan menabrakkan cara pandang saya.

Sebenarnya, hidup itu Anda persepsikan sebagai apa?
Hidup itu kecil, kekayaan kecil, nama besar pun kecil. Maksud saya kecil itu apa? Manusia itu sendiri yang besar, tertinggi sebagai makhluk yang mulia. Dan kalau kita belajar, aku itu yang mana. Bukankah aku dengan Emha itu berbeda? Emha kan kecil, karena Emha hanya faktor budaya saja, iya toh? Faktor dalam tata masyarakat ada sebuah titik namanya Emha. Selebihnya saya bukan Emha. Saya harus lebih besar daripada Emha. Saya memperlakukan Emha sebagaimana manusia memperlakukan nama-nama yang lain.

Setiap manusia kalau mau memperlakukan dirinya, mengejar dirinya dia akan lebih besar dari itu semua. Jadi saya tidak segan-segan memberikan semua yang kecil itu, dari sejumlah uang, harta benda kesempatan, kursi bahkan diri saya yang namanya Emha itu saya berikan tidak apa-apa. Betul, itu semua kecil. Karena ada sesuatu yang lebih besar dan lebih lengkap. Ini memang absurd, saya tidak apa-apa, kok. Ndilalah aku duwe kendaraan yo tak kekne dan itu sedang terjadi saat ini. Dua minggu yang lalu sekeluarga saya tak makan. Lha wong gak duwe duit. Tidak punya uang. Itu kan juga bukan kesedihan dan kesukaran, lha piye yen aku pikirane koyo wong akeh yo piye maneh…. saya bukan tidak setuju, nanti kalau Anda sudah tua tidak berpikir begitu lagi. Ya sudah, usia tua itu sekarang saja. Daripada menunggu usia 60, ya sekarang saja.

Boleh tahu konsep religius Anda, soalnya banyak orang bilang bahwa Anda saat ini semakin religius dibanding dulu?

Orang selalu eksoteris. Orang selalu melihat tanda-tanda luar, hanya karena saya….., sesungguhnya religiusitas itu bagaimana, sih? Cara berpikir saya begini, religius atau non-religius atau sekuler itu, kalau saya merokok dan saya temukan hubungannya dengan Tuhan itu namanya religius. Sekular itu ialah kalau kita melakukan dan memandang sesuatu terpotong hubungannya dengan Allah. Seperti saya tulis tentang Sudjatomoko di Tempo. Kalau ada seorang astronom memandang langit. Dia menghitung-hitung, lantas itu semua membawa dia pada kesadaran akan Tuhan, di situ dia menjadi ulama. Sebaliknya seorang ahli agama, fiqih begini-begini, tapi hanya menghasilkan perilaku seorang yang otoriter, memaksa orang begini dan melarang orang begini dan dia tidak bertauhid maka dia bukan ulama. Jadi religiusitas itu lebih luas dan lebih lembut dibanding yang selama ini disangka-sangka orang. Saya kira religiusitas saya bukan ditandai dengan puisi saya kok. Atau saya bisa mengucapkan assalamu’alaikum, itu kan cuma tanda-tanda yang eksoteris.

Sekarang misalnya saya begini, kumpul-kumpul seperti biasa di pasar makan lanting atau klepon. Orang akan mengukur saya. Seandainya saya seorang ustad, saya tidak pantas kumpul-kumpul di pasar. Tapi itu ukuran budaya. Ukuran religi apa tidak lebih baik. Jadi, jika ditabrakkan dengan tanda-tanda budaya, pedomannya orang, mau apa lagi, saya harus pakai peci, pakai jubah, pakai sajadah. Saya tidak menolak hal itu, namun religius saya bukan religius macam itu.
Religius saya religius sunyi, tanpa diketahui orang lain. Dan orang lain pasti salah paham. Silahkan saja salah paham sama Emha. Ya, terserah Anda tidak mau tahu saya. Emha itu hanya salah satu bagian dari permunculan saya.
Diri itu rahasia dan gaib. Yang Anda keluarkan itu hanya sejauh yang bisa dilihat orang. Jadi saya harus rela Emha itu namanya menjadi begini.

Anda tidak pernah menuntut orang lain memandang Anda dengan mata batin misalnya?

Dulu saya menuntut, orang harus memandang Emha seperti juga saya memandangnya. Sekarang sebisa-bisa saya, terserah Anda. Memandang bagaimana atau menyebut apa terserah. Saya juga tak berharap dari orang-orang pintar atau politikus. Sebab siapa Anda sebenarnya? Seorang Siswadi Gancis (kiper PSIM awal 1990-an-ed) adalah lebih dari seorang kiper, karena punya faktor-faktor lain yang tidak diketahui orang banyak. Hidup itu permainan bola yang justru lebih rumit daripada di lapangan. Tapi hakekatnya hanya peran itu. Orang mengetahui kita ketika kita berperan, sebatas peran di belakang peran itu lebih besar lebih luas. Nah, yang lebih luas itu sebaiknya dipahami orang atau tidak. Ya, monggo. Kalau dipahami alhamdulillah, kalau tidak allhamdulillah.

Kalau perkawinan Anda yang dulu. Perceraian itu Anda anggap sebagai kegagalan?
Saya tidak melihat itu kegagalan, karena itu terbaik, itu lebih baik. Perkawinan itu bukan agama. Perkawinan itu seperti orang becak, yang satu membayar, yang satu mengayuh. Dus, itu seperti kontrak-kontrak sosial dalam kehidupan. Sebagai konsep perkawinan yang eksklusif itu gagal, tapi kalau saya melihat konsep kemanusiaan dan cinta kasih, formasi budaya manusia, itu sukses. Saya lebih mencintai mantan istri saya, meskipun dia tidak bisa bersikap begitu. Pokoknya sampai sekarang saya mencintai dia. Saya lebih mencintai anak saya. Anak saya secara dialektis akan lebih dewasa daripada kalau misalnya kami normal seperti yang dibayangkan orang.

Kalau begitu seks itu sendiri dalam hubungan laki-laki perempuan, menurut pandangan Anda bagaimana?

Seks itu sarana untuk mencapai ekstase. Dalam seks ada ekstasi fisis, bersifat fisikal, atau biologislah. Tapi, sebenarnya ekstase biologis itu kendaraan saja sampai pada ekstase yang bersifat lebih ruhaniah dan lebih hakiki. Nah, sekarang ekstase hakiki bisa Anda tempuh melalui kendaraan yang bermacam-macam, sekaligus jalan yang bermacam-macam. Anda bisa mencapai ekstase karena kegembiraan, kesedihan karena amal. Asal dipelihara saja supaya tetap konstan menuju pemilik Maha Pemilik ekstase.

Anda yakin kalau sampai pada Maha Pemilik ekstase itu lebih nikmat daripada orgasme seks itu sendiri?

Wah, itu kekal. Orgasme biologis kan cuma sebentar dan itu tanda bahwa itu semu. Tidak berarti tidak enak, lho ya. Tapi kenikmatan yang begitu hebatnya ternyata masih tingkatan semu, meskipun manusia masih membutuhkan kesemuan-kesemuan. Masih membutuhkan sesuatu yang pura-pura. Manusia masih butuh itu. Saya tidak mengatakan perkawinan saya sukses. Kontroversial kalau saya mengatakan perkawinan saya sukses. Kalaupun dikatakan suskes. Maksud saya begini, kayak blocking dalam drama. Misalnya, pemain ini kalau kumpul dengan pemain ini jadi jelek penampilannya. Nah, kalau dijauhkan malah terbina skenario cinta yang lebih luas. Contoh lain, saya bilang sama mertua saya, tolong saya diterima tidak sebagai menantu, namun sebagai anak. Ini meningkat apa menurun? Saya bersedia menjalankan apa yang relevan dari kondisi saya sebagai anak itu.

Di mata mantan istri, Anda ingin dianggap sebagai apa?

Lho wong piye aku sejak dulu dulu sebelum kami cerai saya sudah bilang sama dia, kalau dia senang sama orang lain, saya yang jadi panitia. Bahwa kita harus bercerai ke KUA itu soal teknis, dan waktu di pengadilan dia juga sama calon suaminya. Kami berangkat bertiga sama anak saya, tidak ada soal bagi saya. Jadi saya ikut mengantarkan kebahagiaan dia yang lebih riil yang saya tidak bisa memberikan. Jadi saya tak perlu sedih.

Oh ya, sekarang tentang kisah kemarin dulu, soal pengadilan tentang keislaman dan kepenyairan Anda, ada komentar?

Saya sebenarnya antara senang dan jengkel. Senang karena kalau itu terjadi saya akan bisa…. atau katakanlah kesempatan yang besar buat umat Islam untuk mendewasakan diri. Saya jengkel karena panitianya merepotkan semua pihak termasuk saya. Merepotkan sekali, nesu tenan aku iki (marah betul saya-ed). Saya marah karena disangka mencari popularitas. Soalnya latar belakangnya sebenarnya sederhana bahwa kaum rasionalis atau reformer Islam yang Muhammadiyah itu selalu peka terhadap apa-apa atau gejala-gejala yang dianggap mempersonifikasikan Tuhan, bid’ah, tahayul dan segala macam khurafat. Tapi menurut pandangan saya metode yang mereka pakai untuk mengetahui mana khurafat mana tidak, mana tahayul mana tidak itu metode Barat. Bukan cara berpikir Islam. Jadi saya ingin membuktikan kalau itu jadi. Saya ingin membuktikan tuduhan-tuduhan Anda itu lebih relevan saya tujukan kepada Anda. Jadi Anda yang tertuduh, bukan saya. Saya cukup mengemukakan Hadis Qudsi, tak usah saya pakai argumentasi. Hanya saya beri sepuluh saja Hadis Qudsi yang jauh lebih serem. Tentang bagaimana Gusti Allah mesra banget, tentang mengajak “kesini mendekat…”, “Aku di sini…nanti Kubukakan wajah-Ku,” misalnya Beliau berfirman begitu. “Betapa cantiknya Aku, akan Aku taburi dengan mahkota cahaya.” Lha, Allah sampai mengatakan seperti itu.

Boleh tahu tentang proses kreatif Anda?

Itu reflektif. Yang paling banyak reflektif. Jadi kita itu kayak musik yang cari tabuh begitu. Musik cari pemukul. Entah karena melihat gejala atau karena omong-omong itu muncul kalau diam ya harus cari-cari. Dalam imajinasi saya ada konstelasi ini-itu bisa juga.

Apa arti kesepian buat Anda, misalnya bila Anda harus sendirian?
Kalau dalam soal itu saya tidak kesepian. Kesepian saya terjadi dalam konteks yang tadi. Kalau untuk hal-hal yang normal-normal saja orang tidak paham. Itu sunyi namanya sepi. Kalau yang sampai kayak tadi itu pada hakekatnya memang tidak bisa dipahami, dan itu tidak apa-apa. Tapi sekarang persoalannya kalau urusan sosial. Sistem-sistem budaya yang elementer tapi, toh buntu, komunikasi dengan orang, dengan kelompok itu buntu, saya merasa sepi. Hanya karena seperti itu lantas tidak terjadi dialog. Nah, itu sepi.

Anda kecewa dengan hal itu?

Ya… nlongso juga. Sekarang informasi luar biasa. Mekanisme informasi dahsyat. Otak itu tiap hari dikasih program-program baru yang luar biasa. Dan sesungguhnya setiap kata, setiap substansi yang masuk ke dalam otak itu harus berlanjut dalam pengolahan diri. Nah, ini tidak seimbang antara pengolahan informasi yang masuk. Itu bisa merusakkan manusia, bisa membuat orang sakit jiwa sosial. Kita semua banyak tahu macam-macam hal. Mahasiswa membaca buku banyak, diskusi banyak tapi pada saat yang sama ini semua tidak aplikatif entah bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. Kita jadi rumus, atau rumah kita jadi gudang yang tidak karuan. Padahal sebenarnya setiap informasi, katakanlah kalau agama ya Al-Fatihah dulu, jangan banyak-banyak. Al-Fatihah saja sudah bingung. Untuk melaksanakan iyyaka na’budu sudah sulit, tapi sekarang referensinya sekian banyaknya sampai ada kompleks-kompleks yang luar biasa dan membingungkan. Dalam ketidaksambungan antara informasi dan kenyataan-kenyataan empiris itu Anda memperoleh kesunyian yang luar biasa. Nah, sunyi saya itu di situ, karena tidak bersambung ibarat dua sistem syaraf yang diskonektif satu dengan yang lain.

Kalau kesepian sehari-hari?

Itu tidak apa-apa. Itu kan soal metabolisme saja. Seks misalnya, itu seperti orang berak kalau sudah saatnya berak akhirnya berak sendiri. Seperti sperma kalau sudah saatnya keluar, ya …. keluar.[]

Suara Merdeka, 10 Feb 1990

SENDAL

OLEH: SARTRE (dari tumpukan file di laptop waktu kuliah)

Masih dengan napas tersengal-sengal Ia menapaki tangga dengan tidak memakai alas kaki, kemudian masuk ketempat pengambilan biodata. Tanpa permisi langsung menerobos masuk, panitia yang dipintupun terpaksa menyilakan saja. Dari depan sampai belakang kepala MaBa yang nyaris tak berambut dipukulinya, ada yang meringis, sampai hampir nangis, tapi ada juga yang diam saja mungkin merasa ini bagian dari takdirnya masuk ketempat yang “berbahagia” ini. Puluhan muka tak berdosa yang menunduk didepannya diam tanpa reaksi. “Ayo bilang apa, sama Senior,” teriaknya setengah menjerit, “Terima kasih senior, Senior baik deh, ulang dong, kita kan butuh” koor maba kompak, pertanda sudah disiapkan sebelumnya. “Sekarang kepala ditangan, posisi senam selingkuh,” tentu saja para MaBa bingung dibuatnya, dengan aba-aba yang masih asing bagi pendengarannya, yang pasti sepeminuman teh kemudian terdengar lagi koor “Terima kasih Senior, Senior baik deh, ulang dong, kita kan butuh”, berarti drama pembantaian masih berlangsung. Tiba-tiba salah seorang MaBa pingsan, yang langsung membuat panitia seksi kesehatan kalung kabut, ada yang ambil obat, tandu, sarung, ada juga yang mengambil celengngan sumbangan, panitia yang lain menarik sang senior yang masih berteriak kalap. “ Lily, tenang Li, kayak kemasukan setan aja, sebenarnya kamu kenapa sih?” tanya Widi. “Sorry Wid”, saya lepas kontrol saya butuh ketenangan dulu” bisiknya penuh penyesalan sambil melangkah keluar mungkin baru sadar. Semua panitia yang ada diruangan pengambilan Biodata hanya saling memandang heran, bisanya lily yang dikenal pendiam, lembut, kok bisa kalap, padahal dulu dia yang paling menentang kekerasan di Ospek, kok bisa berubah, tidak ada yang bersuara. Mungkin dia lupa makan obat, atau lagi teruk suasana hatinya. Tak lama kemudian terdengar lagi koor ”…ulang dong Senior, kita kan butuh…”, dan drama pembantaian berlanjut terus.

Sambil menarik napas panjang Lily duduk di taman, betul-betul dia kehilangan kontrol tadi, dia mulai menarik napas panjang lagi sambil mengingat kejadian tadi pagi, seandainya tidak terjadi, mungkin tidak seperti ini akhirnya. Dia mulai memikirkan sanksi yang mungkin akan menimpanya, “ Andai tidak ketemu dengan si kunyuk yang sok ganteng itu” bisiknya membatin, napas panjang ditariknya lagi sambil mengingat semua kesialan yang dideritanya pagi ini. Awalnya sih dari rumah, janjiannya dengan Hary untuk sama sama ke kampus batal, entah kenapa Hary tidak datang pagi ini, ini yang kesekian kalinya dia tidak menepati janji, betul-betul cowok yang tidak tau diuntung, andai bukan karena Lia kakaknya yang memohon, belum tentu dia bisa jadian sama Hary teman baik kakaknya. Tapi berhubung karena bertugas di Seksi Pendaftaran Ospek, terpaksa dia harus berangkat sendiri keKampus, dari Rumahnya di Perumdos. Sialnya tak satupun becak yang biasanya parkir di sekitar rumahnya nongol mungkin lagi demonstrasi demi perbaikan nasib mereka sekarangkan bukan Cuma mahasiswa aja yang bisa demo. Dengan terpaksa dia harus berjalan kaki keluar kompleks, ditengah cuaca yang terik seterik dan seteruk hatinya. Sampai diluar, petepete yang ditumpanginya ternyata masih markir nunggu penumpang, lamaaa… sekali mana cuacanya panas , sampai sampai semua sumpah serapahnya yang terekam diotaknya keluar dengan ricauan yang tak jelas. Untunglah sebelum badannya benar benar gosong seperti terpangang di dalam oven, mobilpun jalan pertanda berakhirnya semua penderitaan ini. “Kiri pak” ucapnya di terminal, membayar tanpa meminta kembaliannya karena memang uang pas, terus berjalan cepat menuju Fakultasnya, sambil menyiapkan alasan untuk merasionalisasi keterlambatannya. Ternyata kesialan masih membayangi, baru beberapa langkah sandal yang dipakainya terasa mau putus. Dekat baruga, siang- siang begini pasti ramai, harus singgah dulu nanti sepi baru lanjut , takut putus, malunya minta ampun kalo itu terjadi. Lily duduk dekat Mace. Siang itu baruga tidak seramai seperti biasanya mungkin orang orangnya lagi sibuk mengospek Cuma ada beberapa orang lagi asik main domi, agak jauh sih, tapi ada satu orang berada di dekatnya, memakai jaket biru gelap, lagi asyik membaca, yang ternyata seniornya sang kutu buku, sang filsuf, si misterius si dingin, si penyair sableng, pengeran katak, kamera man motif dan masih banyak julukan lainnya, tapi kebanyakan sih memanggilnya si ganteng, mungkin karena parasnya walaupun bagi Lily, dia tidak terlalu begitu amat. Nama sebenarnya Adi, angkatan 98, jarang masuk kuliah, pendiam, acuh, penunggu baruga, teringat lagi julukannya namun bukan itu dipikirkannya, tapi   tanggung jawabnya di kepanitiaan ospek dan sandalnya yang hampir putus.   Terpaksa dia harus menunggu sampai si pemilik sejuta gelar itu beranjak dari tempat duduknya tapi apa yang diharapkannya tidak terjadi. “Wah masih lama nih”, dia melirik arlojinya, jam 11:33 Lily memberi toleransi waktu setengah jam, kalau si ganteng masih disana terpaksa dia yang harus cabut. Diam, tanpa suara, jarum jam seakan malas berputar, dia mencoba tetap tenang, walaupun suasananya mirip Neraka, dia tidak terbiasa dengan diam yang membunuh seperti ini. Dia merasa seperti orang bodoh dengan kebisuannya seperti itu .

“Tidak masuk nonton ospek, “Kisanak, eh kak Adi” tanyanya perlahan membunuh sepi, “Buat apa, nonton tragedi kemanusiaan?” balas Adi dingin. Salah tema nih pikir Lily,”Oh yah kapan KKN nya kak Adi” tanya Lily mencoba tema lain. ”KKN” ??!!.., bertanya apa mengejek nih”!! tetap dingin, tanpa melirik Lily sekedip pun. Pantas saja dijuluki si misterius, si diam, si batu, ternyata tepat. “Katanya kak Adi jarang masuk kuliah yah” tanyanya walaupun harus menelan kedongkolannya, itung-itung membunuh waktu, pokoknya Cuma setengah jam saja, begitu mungkin pikirnya. Ditanya begitu spontan Adi meletakkan buku di tangannya dan berbalik, “Kalau bisa saya balik bertanya apa sih yang kamu dapatkan dari ruang kuliah, dari kampus ini, kelas dan kampus ini ibarat penjara bagi saya mengkerangkeng jiwa merdeka saya, sisi kemanusiaan saya,. Kreatifitas saya, saya tidak mungkin menjadi manusia di tempat ini, mata kuliah, dosen, kita, dan semuanya diarahkan menjadi sekrup pembangunan, jadi robot pembangunan tanpa rasa, tanpa hati, demi Ideologi negara, demi memenuhi lapangan kerja, dengan dalih spesialisasi untuk efisiensi, efektiifitas, produktifitas yang membuat kita terasing dengan orang lain, diri kita, padahal hakikat pendidikan adalah Pembebasan, padahal pendidikan untuk membuat kita tahu kenapa kita bisa ada di tempat misterius ini, padahal pendidikan untuk menaikkan makam kemanusiaan, padahal pendidikan untuk menimbulkan kearifan kita dari dalam dan banyak lagi padahal. Banyak yang saya dapat disini, di baruga ini, disini kelasnya lebih jujur, karena semua ini adalah ruang pembelajaran, termasuk sinar matahari ini “ cerocos Adi yang hanya membuat Lily manggut-manggut padahal kata-kata itu baru bagi kosa-katanya, itupun kalo ngerti, pantas disebut sang filsuf, Lily sempat melihat guratan emosi di bening matanya yang berkaca mata minus. Tapi tetap saja dia kelihatan dingin, sombong dan angkuh. Suasana kembali diam sampai setengah jam berlalu, berarti toleransi waktunya sudah cukup. Lily harus meninggalkan tempat itu apapun resikonya, daripada dekat makhluk yang sombong dan angkuh , setengah jam sudah cukup membangkitkan kejengkelannya pada orang yang benama Adi. dengan langkah perlahan karena takut sandalnya putus, ia meninggalkan Baruga, tanpa pamit, buat apa pamit pada orang seperti itu. Baru beberapa langkah, mukanya langsung pucat, apa yang ditakutkannya kini terjadi, sandalnya putus dan lebih jengkel lagi ketika Adi bukannya menolong seperti apa yang biasa dilakukan cowok-cowok yang dia kenal maupun tidak apabila dia mengalami suatu kesulitan, justru menertawainya terbahak-bahak, kekinya minta ampun dan terjadilah pembantaian di ruang pendaftaran, sebagai akumulasi dari kejengkelannya, terik dan tersuk hatinya hari ini.

Sore itu ruang sidang DPM Fisip tidak terlihat seperti biasanya sunyi dan senyap, kali ini kelihatan agak ramai beberapa orang mahasiswa duduk melingkar mengitari meja yang berbentuk lingkaran rupanya ada sidang hari ini. Dengan Lily sebagai terdakwa, dia disidang hari ini atas pelanggaran terhadap aturan main ospek yang dilakukannya kemarin. “Pokoknya dia harus dipecat dari keluarga mahasiswa, karena tingkah lakunya” teriak seseorang disudut. “Pelanggaran pada aturan main ospek, harus dihukum dengan keras”timpal yang lain. “Dia harus dihadapkan pada Komisi Disiplin Universitas, ini melanggar citra mahasiswa dan HAM, Pembantai, sok Senior, aktualisasi diri, membuat MaBa masuk Rumah Sakit itu sudah sangat keterlaluan” dan banyak lagi teriakan yang menghujat, mengadili, menyudutkan Lily yang memang sudah tersudut di ruang DPM . Ketua DPM kelihatan berbisik dengan anggotanya, sementara Lily sudah pasrah apapun sanksi organisatoris yang akan dijatuhkan padanya nanti. Dia melirik kiri kanan, semua teman dan ketua himpunannya hanya menunduk, tanpa ada pembelaan, Lily pun tidak berniat membela dirinya, andai kemarin janjiannya dengan Hary jadi, andai kemarin sandalnya tidak putus, andai tidak ketemu Sang filsuf kesiangan kemarin, dan banyak lagi korban dalam sumpah serapah Lily dalam hati. Suasana tegang, menunggu keputusan. Tak lama kemudian terdengar suara sesorang memberi masukan ”Kondisi di ruangan ini berbeda dengan kondisi ketika berhadapan dengan MaBa, banyak kondisi yang mempengaruhi perasaan seseorang, kadang orang kehilangan kearifannya karena pengaruh perasaannya yang tak berdasar. Pelanggaran yang dilakukan oleh Saudari Lily hanyalah sebagian kecil saja, Cuma korbannya yang kebetulan anak Dosen, yang memang tidak terbiasa dengan suara keras, cuma Lily adalah wanita yang tak lasim berbuat begitu dan Cuma karena lily tak akrab dengan Sesama panitia . Mari kita melihat masalah ini lebih bijak dan sana. Apakah sudah adil apabila saudari Lily dijatuhi hukuman yang berat , saya keberatan dengan semua ini, kita mau menempatkan Lily sebagai korban atas segala kesewenangan kita, pada kepatuhan terhadap aturan yang ada, pada keinginan agar ospek tetap berjalan. Lily harus dihukum, tapi tidak seberat itu secara pribadi saya juga menolak Ospek yang penuh kekerasan, pelanggaran HAM!” bagaikan sihir aliran kata-kata yang retorik mampu menghipnotis semua yang berada di ruangan DPM, membuat Lily, dan yang lainnya serta merta melirik ke Sang pemilik suara, yang terkesan duduk dengan santainya, Adi Ganteng, Sang Filsuf, si Penunggu Baruga, entah berapa banyak lagi gelarnya, tapi itu tidak penting bagi Lily yang jelasnya dia bagaikan Dewa Penyelamat ditengah segerombolan Penyamun. Mungkin ini titik bifurkasi bagi Lily, titik percabangan, suatu kondisi kritis yang dialami oleh seseorang yang membuatnya mampu memilih apa saja, termasuk membalik semua asumsi awalnya, “ Untung ketemu Adi Ganteng, kalau tidak?”desah batinnya. Ruangan kembali diam. Ketua DPM berbisik lagi dengan seluruh stafnya, tak lama kemudian, muncul keputusan Lily cuma direshufle dari kepanitian saja tanpa mencabut haknya sebagai Anggota keluarga Mahasiswa.

Malamnya Lily merenung sendiri di kamarnya sembari membaca mata kuliah di KRSnya Lily merasa kata-kata Adi ada benarnya, kalau kuliah Cuma mengarahkan kita untuk menjadi tenaga kerja saja, menjadi robot tanpa hati, rasa, jati diri, nilai kemanusiaan.Dia teringat akan kata-kata dari Adi yang menarik waktu sidang mau ditutup tadi sore, “Kenapa kita masih terperangkap pada arogansi Fakultas, Jurusan, Keilmuan, sampai kita harus perang demi mempertahankan arogansi kita   kenapa kita tidak melihatnya sebagai kesatuan yang utuh, bahwa ilmu tidak terpisah-pisah tapi sebagai suatu kesatuan menuju ke Pemaknaan Hidup lebih dalam, bahwa kita manusia, alam dan semuanya adalah satu” dan banyak lagi yang diucapkannya. Lily sampai heran kenapa kata-kata itu dihafalnya,terngiang terus sampai di dinding kamarnya, dia sadar kalau suasana sidang tadi membuatnya melihat Adi sebagai Dewa Penolong.”Aku jatuh cinta padanya, tapi Hary ?” rintihnya lirih namun kemudian berusaha membuat dirinya tegar dan mengambil sikap untuk memutuskan Hary, yang palsu dan mencoba meraih cinta sang Dewa penolong, “Adi, aku mencintaimu”.Ungkapnya lirih pada bantal gulingnya seolah olah itu adalah Adi.

Malam itu juga, Hary datang, mengajak Lily jalan jalan ke Pantai, dan di sana pula semua kepalsuan berakhir sudah, cinta yang selama ini karena iba, kasihan, tidak enak pada Lia kakaknya, ia tinggalkan sudah walaupun harus meninggalkan Hary di Pantai berurai air mata. Ada satu kekuatan di hati Lily yang membuatnya bersemangat untuk semua itu, harapan pada hidup indah kelak yang akan direguknya. Malam itu malam bersejarah baginya dan esok, dia akan ke baruga menyatakan semua isi hatinya pada sang Penunggu Baruga. Masa bodoh akan norma norma masyarakat yang menganggap tabu apabila cewek yang mendekati cowok toh norma itu bukan suatu kebenaran yang hakiki. Malam itu dia tidur dengan mimpi indah, dimulutnya terkulum senyum bahagia, “Untung sandalku putus, kalau tidak”, ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, segudang mimpi indah membuatnya terlelap.

Aku masih terlelap di ruang Himpunan ketika Lily datang membangunkanku, “Kak Sar bangun dong, liat kak Adi ndak”. “ Ada apa sih cari Adi pagi-pagi begini bukannya tadi malam, dia ke rumahmu”, tanyaku balik, sambil mengucek mata dan membetulkan letak sarung tidurku yang sudah naik sampai paha membuatku kelihatan seksi . “Iya sih, tapi aku ndak sempat ketemu soalnya tadi malam aku …” kalimatnya tidak dilanjutkan lagi. “Ayo kita ke kamarnya di RAMSIS” ajakku segera bangkit dari karpet himpunan yang penuh debu tanpa mengganti sarung dan cuci muka. Setibanya di sana aku mengetuk kamar Adi, tidak ada sahutan, mungkin saja dia masih tidur karena jam bangunnya saya hapal persis Jam Sepuluh, kecuali kalau ada yang mendesak, itupun jarang dan sekarang baru pukul sembilan. Setelah lama mengetuk namun tak ada sahutan jua akhirnya kuperiksa tempat simpan kunci rahasianya ternyata kuncinya ada disana, berarti dia keluar sejak pagi tadi, entah ke mana sebab menurut Lily dia sudah mencari Adi di segala penjuru Kampus, berarti ini bukan hal yang biasa terjadi .       Kubuka kamarnya, Lily ikut masuk, dia kaget melihat lukisan yang mirip wajahnya tergantung, atau memang dia, setumpuk buku Erich Fromm, Khalil Gibran, dan tak jauh dari situ tergeletak selembar kertas ditindih oleh buku ,yang berisi pesan untukku, berdua kami membacanya, tidak ribut sebab aku belum sikat gigi, takut jatuh pamor.

Saudaraku sartre…..

Sorry, pagi ini saya berangkat ke Jakarta seminggu lebih cepat dari yang kurencanakan, ada Pelatihan Cinematography, selama 8 bulan. Tadi malam saya ke Rumah Lily, kata kakaknya dikeluar dengan Hary, Pacarnya, saya kePantai untuk menghilangkan sumpekku, ternyata dia juga dipantai dengan Hary nya. Pedih, sakit, aku terluka…

Saudaraku….           Salam buat Lily my Imagination berikanlah buku supernova ini padanya sebagai kenang kenangan dariku. Saya berangkat pagi ini, kamu benar, saya takut membuat harapanku menjadi nyata karena ini semua, harapanku mati, untuk hidup pun susah, ternyata dia sudah ada yang punya, aku ke jakarta, tanpa meninggalkan alamat, Emailku saya tutup, tolong jangan hubungi saya, karena semua tentang Makassar membuatku teringat akan Lily My Imagination, saya terluka, saya ingin menyembuhkan diriku.

Saudaraku……         Ternyata semua teoriku gagal ketika berhadapan dengan kenyataan ini, aku kalah….

ADI……….Your Brothers……

NB:

            Surat ini akan meledakkan dirinya sendiri lima menit setelah kau baca…….      

Kupandangi wajah Lily, dia menangis, aku sudah mulai paham tentang apa yang terjadi pada Lily andai Adi tahu apa yang akan terjadi pagi ini, andai Lily tahu bagaimana waktuku dengan Adi selama ini kami habiskan untuk membicarakan dia, yang membuat Adi mati kutu bila berhadapan dengannya, membuat Adi menjadikannya harapan, Imagination, menjadi mimpi saja tanpa takut mengungkapkannya, kecuali malam itu ketika Saya berdebat lama dan dia mengikuti nasihatku, datang ke Rumah Lily untuk mengungkapkan perasaannya, karena bagi saya harapannya itu pasif, dia takut ketika cinta yang diungkapkannya gagal dan membunuh harapannya, bagi saya dia takut berhadapan dengan kenyataan. Tapi semua kacau, diluar kontrol . suasana hening seketika yang terdengar terdengar hanyalah lagu kasih tak sampainya PADI mengalun lembut dari tape recorder tetangga sebelah hingga membuat hati lily semakin sedih dia terisak dan air matanya pun semakin deras mengalir di kedua pipinya yang mulus. Andai Adi ada di sini.

Tiba tiba praakk terdengar seseorang membuka pintu membuat aku dan Lily serta merta menoleh ke arah situ yang ternyata Adi “Aku batal berangkat acara di undur sampai bulan Desember” ujarnya padaku sambil melempar tasnya dan berlalu masuk tanpa membuka sepatu. Kulihat wajah Lily langsung berbinar. Takdir ???!!!….

“Jadi tidak perlu saya hubungi yah,” sindirku sambil meninggalkan mereka berdua.

RAMSIS UH, 20 agustus 2001

 

Cerita ini bukan fiktif, apabila ada kesamaan nama, alamat dan kejadian, itu bukan kebetulan tapi disengaja, mudah-mudahan ada yang jadian sehabis ini. Namanya juga USAHA.

 

Apa sudah tiba saatnya kau digariskan Tuhan untuk mempercayaiku agar menjagamu, dan waktu mulai menyerahkan sebuah perjalanan untuk “kita”?

THE HARDEST PART IS WAKING UP IN THE MORNING REMEMBERING WHAT YOU WERE TRYING TO FORGET LAST NIGHT

THEY’VE PROMISED THAT DREAMS CAN COME TRUE. BUT FORGET TO MENTION THAT NIGHTMARES ARE DREAMS, TOO

KEBERANIAN LELAKI ADA PADA KETIDAKPEDULIANNYA

FALLING

they say
that falling in love
is wonderful
but I guess they forgot
to mention
the terrible pain
of a fall that remains
unbroken

BURUNG TAK BISA MENYELAM, IKAN TAK BISA TERBANG, TAK ADA YANG SALAH, KAU HANYA PERLU MENGENALI DIRIMU.

KRITIS

Karena kritis itu sendiri butuh kecerdasan; ketidakresponan terhadap kesengaaraan lingkungan sosial juga bukan karena rakyat cuek, tapi kepedulian itu butuh modal untuk memberi.
Intinya jika seorang itu tidak kritis dan tidak peduli, maka kasihanilah, karena mereka itu tak cerdas dan tak kaya, alias miskin.

PETARUNG YANG HEBAT TIDAK MEMENANGKAN PERTARUNGAN DENGAN BERTARUNG, TAPI DENGAN KETAKUTAN.

MENGAMPUNI TUHAN

Dalam perjalanan hidup kita, saya yakin kita semua pernah mengalami kekecewaan yang sangat mendalam. Kita merasakan ketidakadilan, kehilangan, frustasi dan kemarahan yang sungguh-sungguh. Dan kita kemudian marah kepada Tuhan. Atau paling tidak, menyalahkan Tuhan. Atau mungkin mencurigai Tuhan. Atau bisa juga hanya sekedar mengeluh. Tapi yang jelas, kita semua bertanya pada Tuhan: Mengapa Ia biarkan semua itu terjadi? Mengapa saya diperlakukan tidak adil? Mengapa saya harus kehilangan orang yang begitu saya cintai? Mengapa kerja keras saya berakhir dengan kesia-siaan?

Menyalahkan Tuhan mungkin adalah suatu kesalahan. Mungkin? Ya. Karena kita tidak tahu apakah Ia berada di balik kejadian yang mengecewakan itu. Kalau benar, maka adalah manusiawi kalau kita marah pada Tuhan. Sebagian besar orang mungkin tidak bisa menerima hal ini. Kita tidak bisa memarahi Tuhan sekalipun Ia berada di balik kejadian-kejadian yang menghancurkan hati kita.

Tuhan tidak pernah salah. Ia memiliki rencana yang indah dibalik peristiwa-peristiwa yang membawa duka. Kitalah yang harus belajar memahami rencana Tuhan dalam hidup kita. Saya setuju sekali. Tapi tidak ada gunanya juga berpura-pura ‘menerima’ Tuhan namun sebenarnya hati kita memberontak. Toh Dia tahu yang paling dalam dari lubuk hati kita. Menahan kemarahan pada Tuhan dengan mengalihkannya pada diri sendiri hanya akan menambah satu kebohongan dalam diri kita.

Sebagai orang yang percaya bahwa Tuhan ‘masih hidup’ dan bekerja di tengah kehidupan manusia, kemarahan kepada-Nya merupakan suatu bukti bahwa kita benar-benar konsisten dengan keyakinan itu. Kita tidak akan marah pada anak kita bila kita terjebak kemacetan di jalan. Kita tidak akan marah pada orang asing yang lewat di depan rumah kita bila di rumah kita tidak ada makanan. Kita tidak akan marah pada tetangga kita bila tukang yang seharusnya membereskan atap rumah kita ternyata belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Dalam semua itu, kita tidak marah karena kita tahu ketidakberesan itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Sebaliknya, kita marah pada pemerintah daerah yang tidak bekerja maksimal dalam menata kota. Kita marah pada pembantu di rumah karena melalaikan tugasnya memasak. Kita marah pada tukang yang kita sewa.

Ini paling tidak menunjukkan tiga hal. Pertama, kita yakin mereka orang yang bertanggungjawab akan hal itu. Kedua, kita tahu mereka mampu melakukannya. Dan ketiga, kita menaruh harapan pada mereka.

Kemarahan kita pada Tuhan juga merupakan bentuk dari keyakinan kita bahwa Ia bertanggungjawab, Ia mampu, dan Ia baik. Ia ada dan bekerja di tengah kehidupan kita. Bukankah itu keyakinan yang benar?

Kalau begitu, mengapa Ia yang maha segalanya itu mengecewakan kita? Wah, itu saya tidak tahu. Tanyakan pada Tuhan. Tapi saya mau anjurkan sesuatu pada kita semua. Mari kita mengampuni Tuhan karena Ia mengecewakan kita sebagaimana Tuhan mengampuni kita karena kita mengecewakan-Nya. Mari kita mengampuni Tuhan karena Ia tidak melakukan apa yang kita minta Ia lakukan sebagaimana Tuhan juga mengampuni kita karena kita tidak melakukan apa yang Ia minta kita lakukan. Padahal Dia adalah pemilik jiwa kita. Padahal kita adalah ciptaan-Nya.

MEREKA YANG TIDAK PERNAH MARAH JAUH LEBIH MULIA DARIPADA ORANG YANG TAAT MENJALANKAN IBADAH SELAMA SERATUS TAHUN (WIYASA)

APA YANG KAU BUANG, MUNGKIN MASIH BISA DIAMBIL ORANG LAIN. HORMATILAH MESKI HANYA SAMPAH.

KEKUATAN MASA DEPAN

Kekuatan masa depan adalah mencegah masa kini hidup tertutup bagi kita, menutupi. Masa depan menggugat masa kini dengan menjanjikan kemungkinan yang baru, kesempatan bagi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mengubah masa kini menjadi lain.

CINTA BUKANLAH INVESTASI DEMI MASA DEPAN, MELAINKAN KOMITMEN PADA APA PUN YANG AKAN TERJADI DI MASA DEPAN.

LELAKI MALANG

Apa arti mencintai sesuatu?
Jika seorang lelaki bertanya pada seorang perempuan ‘kau mencintaiku?’ Setelah berdiam diri agak lama & menimbang-nimbang segalanya, perempuan itu menjawab sembari mengerutkan keningnya, ‘oke, sampai titik tertentu, dlm kondisi tertentu’.
Lelaki malang..!

DATANG

Kalau kamu datang,
Aku berjanji tidak akan bertanya kenapa baru sekarang.
Kalau kamu datang,
Aku berjanji tidak akan membuatmu berdiri di depan pintu terlalu lama.
Kalau kamu datang,
Aku berjanji tidak akan bertanya hati mana saja yang telah kau lewati untuk sampai di sini.
Karena dengan langkahmu aku terbangun dari mati suri yang ku nina bobokan sendiri.
Kalau kamu datang,
Tolong jangan pergi, aku lelah menjaga pintu.
Kalau kamu datang,
Aku berani sumpah.
AKU TENANG..

APEL SUDAH JATUH KE BUMI JAUH SEBELUM NEWTON MERUMUSKAN TEORI GRAVITASI, BEGITUJUGA MAWAR YANG SUDAH SELALU TENTANG CINTA JAUH SEBELUM SHAKESPEARE DENGAN KISAH ROMEO DAN JULIETNYA

MEMBENCIMU

Serupa cuaca, aku mencintaimu, selalu terikat waktu.
Serupa udara, aku menyayangimu, selalu terikat ruang.
Serupa hujan, aku membencimu, sewaktu-waktu.

KEINDAHAN

Aku tak ingin menjadi seseorang yang mudah terpesona karena penglihatan. Aku ingin menjadi seseorang yang selalu terpesona pada sesuatu karena pikiranku.
Dan yang terpenting di balik rasa kagum terhadap keindahan itu adalah pengetahuan mengenai dari mana keindahan itu bermula dan untuk apa keindahan itu diciptakan.

CANTIK

Kita telah menciptakan batas-batas yang diskriminatif. Cantik-tidak cantik. Bagaimana perasaanmu, jika kau seorang perempuan dan orang-orang memberikan label ‘tidak cantik’ di dadamu? Itulah kejahatan kita selama ini!
Ukuran cantik atau tidak cantik itu relatif. Semua perempuan di dunia ini cantik. Atau, justru tidak ada perempuan cantik di dunia ini. Sebab, yang kutau sekarang kecantikan seorang perempuan ada pada HATI, JIWA, PIKIRAN, dan TUBUHNYA sekaligus.
…dan aku ingin setiap perempuan memiliki semua itu…
Jangan sekali-kali mengumbar kecantikan yang hanya terperangkap dalam penjara tubuh.

BIARKANLAH BUAH MILIKMU PADA TANGKAINYA UNTUK KAUPETIK SETELAH MATANG

MUNCUL DENGAN TABIR DAN SEMBUNYI DENGAN TAMPAK PADA CELUPAN WARNA DALAM SETIAP KEMUNCULAN

RAGU

Aku bimbang di antara dua langkah
Kapan kebimbangan ini terjadi tanpa pilihan penuh?
Kapan kulakukan ini atau itu?
Jika kedua tangan dan kaki terikat kaku
Kala pikiranku dicengkram ragu
Berjalan di samudra atau melayang di angkasa
Ragu itu tanda kekuatan
Jika bukan sebahak tawa di atas kumis..

SEBERAPA JAUH MANUSIA HARUS BERJALAN UNTUK BISA DISEBUT SEBAGAI MANUSIA

KARENA SETAN TAK MENDUA

Kau tahu, aku menolak bersujud pada manusia sebab aku tak ingin menduakan cintaku pada Tuhan! Hanya Tuhan yang berhak menerima sujudku dan siapapun tidak! Adalah kemusyrikan yang terminal sekaligus permanen bagiku harus menduakan cinta-Nya…
Tetapi cinta memang teka-teki…
Ia tetap ngotot memerintahkanku bersujud kepada manusia dan aku tetap tidak mau…
Aku tak mau meruntuhkan pendirianku sendiri tentang cinta, apalagi kepada-Nya.
Disitulah semua sistem mulai menuduhku berkhianat dan membangkang perintah Tuhan, padahal aku tak bermaksud demikian.

HIDUP

Hidup bukan soal apa yang bisa orang lain lihat dari wajahmu, bukan soal apa yang kamu kenakan dan miliki. Hidup adalah soal merayakan rasa kasih dan sayang yang dianugerahkan Tuhan menjadi bentuk kebahagiaan bagi dirimu sendiri _ juga bagi orang yang melingkupi hidupmu.

AKU BEJAT. AKU ANJING. TAPI AKULAH DIRIMU SEBELUM DIKEMAS OLEH SOPAN SANTUN DAN KEJAIMAN

MAMPU

Aku mungkin tak mampu menyembuhkan sakitmu, membunuh takutmu, atau menghapus sedihmu.
Tapi aku mampu berjalan bersamamu melewati semua itu.

ROMANTIS BUKAN GALAU

Dalam bayanganku, romantis itu ketika Inggit Ganarsih puasa agar perutnya mengecil hingga bisa nyembunyiin buku-buku di balik stagen untuk bacaan Bung Karno dalam penjara.
Dalam bayanganku, romantis itu ketika Bu Tien datang telat lalu beri hormat dan senyum-senyum teriak “Siap! Salah!” ke Pak Harto yang cemberut karena beliau terkenal disiplin waktu.
Dalam bayanganku, romantis itu ketika Ibu Ainun Habibie senyum-senyum ketika suaminya makan lahap sampai butir-butir nasi nempel dan cemong di bibir dan bilang “He is my lovely little boy.”
Dalam bayanganku, romantis itu ketika sutradara alm. Sumandjaja membuka-hamparkan jasnya di jalanan becek agar kaki Farida tak basah.
Jika semua itu disebut kegalauan dan bukan romantisme, wah saya tentu lebih sedih daripada mendengar lagu “Gugur Bunga”.

SIAPA TUHANKU?

Siapa Tuhanku?

Tanyakan kepada Tuhan karena Ia Maha Mengetahui. Jika aku katakan bahwa Ia yang aku puja, aku sembah, tetapi Ia tidak menerima pujaan dan persembahanku, maka pengakuanku tidak berarti sama sekali.
Biar Ia yang menentukan siapa Tuhanku dan siapa yang aku sembah dan aku puja.
Ya Allah, angkatlah tirai yang memisahkan diriku dari diri-Mu, sehingga aku tidak memiliki keberadaan di luar Keberadaan-Mu.

DOA YAHYA BIN MA’ADH RAZI

Ya Allah, aku tidak membutuhkan pahala dari perbuatanku, berikan pahala kepada mereka yang menginginkannya. Berikan kenikmatan duniawi kepada mereka yang masih mengejarnya.
Yang kuinginkan hanya satu saja..
Jangan sampai aku melupakan Nama-Mu, sehingga pada saat ajal tiba, yang teringat olehku hanyalah Engkau!

BENCINTA

Aku membencimu kemudian mencintaimu, itu seperti ingin menjatuhkanmu kejurang kemudian aku bergegas ke dasar untuk menangkapmu.

APA KAU PERNAH MENGGIGIT BAGIAN DALAM PIPIMU?

Apa kau pernah menggigit bagian dalam pipimu? Yang menyebapkan pembengkakan dibarengi dengan rasa nyeri yang sangat menyakitkan hingga matamupun berkaca-kaca dibuatnya. Rasa nyerinya tumbuh dan menyebar ke semua tubuh. Ya.. Kau berharap pada Tuhan agar itu tidak terjadi tapi tetap saja terjadi.
Apa kau tau yang benar-benar menjengkelkan dari peristiwa itu? Yang benar-benar menjengkelkan adalah hal itu tidak terjadi lagi hingga kunyahan terakhir makananmu.

HUJAN SENJA 11.11.13:05.23

Sore ini hujan, ketika kutulis gambaran pikiran tentangmu. Di jendela, buliran hujan merayuku untuk kembali berilusi tentangmu.
Selalu saja begitu…
Aku tak pernah bisa tahan dengan hujan, dengan senja, dengan warna biru, jingga dan semua yang bisa memikatku untuk mengingatmu.
Memang, tidak semua bisa ditanya mengapa?
Seperti semua yg tidak pernah kuperhitungkan padamu.
Aku sudah berjanji untuk menjagamu dari semua eksistensiku. Aku merasa harus membuatmu aman dari setiap kemungkinan kehadiranku dengan cara apapun.
Sedang apa kau kali ini?
Aku percaya, bahwa getaran pikiran seperti ini entah bagaimana akan sampai pula padamu. Aku kirimkan bersama hembusan angin yg mengalir di sela hujan sore ini.
Pernah aku angankan sesuatu yang tumbuh perlahan bersama waktu, sesuatu yang tumbuh dari kuncup pikiranku, bersama semua imajinasi indah yang kubangun tiap malam sebelum ku terlelap.
Ah… Sudahlah,
Ternyata aku sendiri bahkan sering terkejut dengan kejadian-kejadian yang begitu tiba-tiba. Seperti ketika bayanganmu yang bersayap menembus langit-langit mimpiku. Lalu, begitu saja terjadinya…
Then suddenly the madness is start, its ur smile, ur lips, ur face that I missed.
Ironis memang, aku bahkan suka menertawakannya sendiri.
Jangan kuatir, aku sudah cukup pandai untuk tahu betapa konyolnya hal semacam itu.
Tapi memang, setiap malam, aku tidak bisa membuangmu dari semua mimpi dan pikiranku yang terjaga. Aku ingin jadi bengal, liar dan lepas dari pikiran tertib. Aku ingin menuntaskan semua yang menjerit sengit.
Sungguh sayang, saat ini aku hanya menjadi binatang jalang seperti seorang penyair pernah teriak. Dan takkan kubiarkan sajakku terjatuh dalam hujan seperti sore ini. Akan kuberi sayap agar ia bisa terbang padamu. Kemudian bisa kau mainkan makna atasnya, hingga ia bisa membelai senyummu, menyentuh dagumu, atau sekedar membuatmu mengerling padanya, karna ia adalah aku, ia adalah pikiranku.
Sudah aku coba lari dari semua jalan yang menghubungkanku dengan eksistensimu, tapi perasaan itu tak bisa hilang. Hampir bisa kudengar suaramu, atau tawa kecilmu diantara bayang-bayang semu yang hadir dalam pikiranku. Ia begitu saja datang padaku, meski tak pernah kau kirimkan. Meski masih samar kata yang kutemukan dapat kubaca tentang rindumu.
Aku sendiri rasanya cukup tau diri, setelah semacam pertemuan pikiran singkat, aku mesti terjaga sebelum terang menjelang. Aku hanya mampu terjaga di batas mimpi dan imajinasi, aku hanya manusia yang berada dalam remang. Hanya berbekal sebatang korek api yang menunggu datangnya gelap malam dan hingga pagi menjelang..
AKU MENUNGGUMU.
_NDW_

GURITA

Tangga menuju langit adalah kepalamu, maka letakkan kakimu di atas kepalamu…
Untuk mencapai Tuhan injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu.
Ternyata, Gurita sudah lama melakoninya…

KANTUK & KERANJANG

Mata mengantuk dan mata keranjang dari sudut pandang tertentu hampir mempunyai kesamaan. Dua-duanya beorientasi kasur. “mata keranjang” dulunya bermakna “mata ke ranjang”. Artinya setiap melihat lawan jenis, imajinasinya langsung tertuju ke adegan ranjang dengan seseorang itu. Begitu juga dengan mata mengantuk, imajinasinya langsung tertuju ke ranjang.

LUPA

Coba anda bayangkan, jika kita tidak bisa lupa akan sesuatu. Saat makan kita selalu ingat WC umum yang pemakai sebelumnya lupa nyiram.

TEGAS MENGINJAK DARATAN, NAMUN GALAU MENGGAPAI LANGITNYA.

CINTA BUKAN HARGA PAS, TAPI JUGA TAK MENGENAL KEMBALIAN.

KENYATAAN HIDUP INI MEMANG TAK SESEDERHANA YANG KITA BAYANGKAN, WALAUPUN PASTI TAK SESERAM YANG KITA TAKUTKAN.

SEMUA MENGINGINKAN BAHAGIA, TAPI TAK MUNGKIN ADA PELANGI TANPA HUJAN SEDIKITPUN.

DENGAN MENYUKAI AIR, BERARTI KAMU SUDAH 72% MENYUKAIKU.

TERKADANG KITA HANYA BUTUH AIRMATA UNTUK MEMANDANG HIDUP LEBIH BAIK LAGI

TAPI

Oleh: Sutardji Calzoum Bachri

Aku bawakan bunga padamu
Tapi kau bilang masih
Aku bawakan resahku padamu
Tapi kau bilang hanya
Aku bawakan darahku padamu
Tapi kau bilang cuma
Aku bawakan mimpiku padamu
Tapi kau bilang meski
Aku bawakan dukaku padamu
Tapi kau bilang tapi
Aku bawakan mayatku padamu
Tapi kau bilang hampir
Aku bawakan arwahku padamu
Tapi kau bilang kalau
Tanpa apa aku datang padamu
Wah !

MANUSIA SALAH, TUHAN MENGAMPUNI

Apa yang mustahil tak dimiliki manusia? Mungkin rasa bersalah.
Tak pernah ada orang yang hidup tanpa najis dan dosa. Itulah sebabnya Tuhan menyediakan diri untuk didatangi manusia seperti kita yang penuh kesalahan untuk memohon ampunan.
Tuhan sudah tahu, karena memang Dia Maha Tahu. Dia juga Maha Pengampun, jadi untuk apa Tuhan memiliki sifat itu kalau tak ada yang bersalah? Rasanya, sudah tugas manusia untuk bersalah dan berdosa. Agar kita punya kesempatan memohon ampun dan Tuhan memaafkan.
Sebenarnya, setiap kali kita bersalah dan berdosa, sebenarnya kita sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Seperti setiap kita jatuh, kita sebenarnya sedang belajar menuju tempat yang lebih tinggi.

AGAMA

Ini tentang mengatakan pada mereka yang berkedok pembela agama, ulama, ustadz atau kyai bahwa agama bukanlah khotbah-khotbah panjang yang bikin ngantuk, bukan pula upaya-upaya picik melemahkan orang lain, mengafirkan orang lain, menyesatkan orang lain, menyalahkan orang lain, dengan serangkaian tindakan yang penuh arogansi dan kebencian.

Aku tak terlalu mengerti soal agama, tetapi bukankah agama adalah soal membangunkan kemanusiaan yang tertidur dan membebaskannya menjadi tindakan yang menghidupkan? Bukankah agama adalah soal memberi kemaslahatan bagi semua, menjadi rahmat dan penyebar kasih bagi seluruh semesta?

Aku tak terlalu mengerti..
Tapi, barangkali, kita bisa memulai semuanya dari diri kita masing-masing..

GAGAL MENGERTI

Ada apa ini?
Semua yang saya saksikan membuat saya gagal mengerti.
Mengapa belakangan banyak orang merasa sedang mewakili seluruh Bangsa Indonesia?
Mengapa belakangan banyak orang merasa sedang mewakili “umat”?
Mengapa banyak orang merasa layak mewakili Tuhan?
Mengapa banyak orang menjadi begitu bengis dan pemarah untuk membela kebenaran dan keyakinan yang sesungguhnya domain masing-masing individu?
Apa yang sesungguhnya sedang mengancam mereka?
Saya selalu gagal mengerti.

SANG PSIKOPAT

Seorang kyai kampung, yang ketahuan telah membunuh dan memperkosa santri wanitanya, mengaku mendapat wangsit gaib.
Padahal kita sama-sama tahu kalau dia psikopat.

Lalu bagaimana dengan nabi Khidr yang telah dengan teganya membunuh seorang anak kecil dengan mengatasnamakan Tuhan.
Apakah beliau psikopat?

Selama agama kita terima mentah-mentah,
Selama agama kita terima mentah-mentah,
Maka selama itu pula dokter-dokter dan kyai-kyai gadungan dengan leluasa bersembunyi di balik topeng agama.